Berbeda Dalam Pola Fikir Bersatu Dalam Keyakinan



Ulama adalah pewaris para nabi, ditangan ulamalah umat islam menggantungkan harapannya. Yakni setelah nabi Muhammad SAW. wafat ulamalah yang bertanggung jawab atas umat islam. Di era modernisasi ini, peran ulama sangat penting untuk mengubah nasib umat islam. Kita yang mayoritas umat islam, hilang kekuatan untuk menghadapi kekufuran yang terjadi saat ini.

Seperti yang ketahui sekarang ini, banyak para ustadz, kiyai, dan ulama saling menghujat antara satu sama lain. Bukan hanya disitu, mereka juga menghina para rezim yg menurut mereka munafik, juga mereka para ulama menghina mereka - mereka yang tidak satu pendapat dengannya, dengan anggapan pendapat selain dia adalah salah dan sesat. Bukan hanya itu, tapi mereka para ulama dan ustadz berbondong – bondong mengelabui masyarakat dengan mengatasnamakan dirinya adalah ulama. Memang pola fikir manusia memang berbeda beda, tapi apa itu termasuk ajaran islam?, apa Nabi kita Muhammad SAW. Pernah mengajarkan kita akhlaq seperti itu?.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan menghujat dan bahkan mencaci maki saudaranya, lebih – lebih agama islam yang dipenuhi dengan akhlaq ini. Bukankah perberbedaan pola fikir kita bukan berarti harus menghujat bukan?. Coba kita intip lagi sejarah para sahabat dan para ulama – ulama kita, ketika mereka saling berbeda pola fikir baik dalam agama maupun pada sesuatu yang berbau politik, bukankah mereka malah menghargainya dengan ketawadhu’annya.

Bersyukurlah mereka yang berilmu masih bisa memilah dan memilih mana yang baik dan buruk. Okelah, tapi bagaimana dengan mereka yang masih butuh didikan para ulama, bagaimana dengan mereka yang  masih haus dengan pendidikan. Bukankah mereka sangat butuh ulama?. Mereka masyarakat awam terlontang - lanting seperti orang buta yang tidak tahu arah dan tujuan. Jadi apabila ada umat islam yang meninggalkan sholat, meninggalkan puasa dan lainnya atau bahkan sampai  ada yang berzina, siapa yang akan  disalahkan?

Bagaimana islam akan kuat bila para ustadz – ustadznya dan para ulama-nya sibuk menghina ulama lain, mereka sibuk dengan menjaga harga diri mereka dengan membenarkan pendapatnya yang tidak bisa dipertanggung jawabkan itu, dan menganggap mereka yang diluarsana adalah sesat. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa ulama adalah pewaris para nabi yang seharusnya menjadi peran utama dalam memperkuat agama islam yang penuh karomah ini dan sebagai rujukan untuk mendidik umat dengan lebih baik untuk bisa mendekatkan diri dengan Rab-nya.

Betapa mengharukannya mereka masyarakat awam yang tidak tau arah dan tujuan. Mereka terlontang – lanting kerena mereka melihat para ulama-nya sibuk dengan membenarkan pendapatnya. Seakan – akan mereka bingung, ingin dibawa kemana mereka ini?. mengikuti ajaran ustad siapa yang paling benar, sedangkan mereka di didik untuk menghina orang lain. Begitu kasihan mereka yang diikut  andilkan untuk kepentingan pribadinya. Bukankah mereka sangat butuh didikan para ulama? Mereka sangatlah haus akan dakwah yang membawa mereka pada rabb nya.

Yang menjadi  masalahnya, apabila umat islam diserahkan kepada orang – orang yang dianggap ulama  oleh aliran – aliran tertentu, tentu persoalan umat islam tidak akan terselesaikan, karena pasti mereka akan membenarkan paham menurut  mereka sendiri, dan  ahirnya kebenaran yang hakiky  bukan akan berlandaskan dari Al – Qur’an dan As – Sunnah, melainkan berdasakan kefatikan kepada aliran – aliran tertentu.

Tidak ada satupun pola fikir manusia itu sama dan menghindari hal tersebut adalah sangatlah mustahil bagi kita, karena itu semua adalah ketetapan dari tuhan. Tapi bukankah pola fikir yang berbeda adalah fitrah bagi kita untuk saling menghargai satu dengan yang lain?. Bila menghargai pendapat orang lain adalah kekuatan kenapa harus menghujat?. Bila bersatu adalah keteguhan kenapa harus berpecah belah?. Bukankah bersatu iyu tidak harus sama dalam pemikiran?. Yang penting kan dalm keyakina, syahadat, Nabi dan Rasul, dan al – Qur’an dan as – Sunnah.



By: majid wasil

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tiga Hijriah

Sifat-Sifat Amr dalam ilmu ushul fiqih