Sifat-Sifat Amr dalam ilmu ushul fiqih
Diantara salah satu bentuk lafadz Quran dan Sunnah pasti di dalamnya terdapat kata perintah. Baik dalam bentuk fi'il amr, fi'il madli atau lain sebagainya. Kata perintah dalam Quran dan Sunnah dilakukan karena adanya tuntunan syariat yang harus dilakukan oleh seluruh hambaNya. Selain itu pasti ada hikmah di dalamnya.
Dalam Ilmu Ushul Fiqih, Amr adalah suatu tuntutan (perintah) untuk mengerjakan suatu pekerjaan dari atasan kepada bawahannya; dimana yang memberikan perintah (آمر) lebih tinggi derajatnya dengan yang menerima perintah (مأمور). Akan tetapi jika yang memberikan perintah sama derajatnya dengan penerima perintah, maka bentuk Amr tidak lagi bermakna perintah. Melainkan bermakna permohonan (التماس). Seperti manusia dengan manusia. Jika perintah dilakukan oleh orang yang lebih rendah dari penerima perintah, maka disebut dengan doa (دعاء). Seperti manusia kepada tuhannya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Quran dan sunnah termasuk pada poin pertama. Yang mana Allah Swt. Memerintahkan kepada hamba-hambaNya atas suatu perkara. Oleh karena itu untuk bisa memahaminya ulama memberikan keterangan khusus tentang gaya (أسلوب) perintah yang terdapat dalam Quran dan Sunnah. Dari sini ulama membagi bentuk perintah dalam Quran dan Sunnah sebagai berikuk:
1. Perintah yang menggunakan fi'ilAmr (فعل أمر). Adapun model ini sudah masyhur, bahwa setiap fi'il 'Amr memiliki makna perintah. Contoh: (اَقِمِ الصَّلٰوةَ) Qs al-Isra', 78
2. Fi'il Mudhari' yang dimasuki Lam Amr. Dimana Fi'il mudhari' yang seharusnya dibaca sesuai kamus dan mengikuti wazannya dibaca sukun disebabkan masuknya Lam Amr Contoh: لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖ ۗ QS. al-Thalaq ayat 7.
3. Isim fi'il Amr (اسم فعل أمر). Yaitu kalimat isim yang bermakna perintah. Contoh: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ. (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 105).
4. Masdar yang mengganti Fi'il (المصدر النائب عن الفعل). Seperti lafad "Dharba" dalam surah Muhammad: فَاِ ذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَضَرْبَ الرِّقَا بِ. QS. Muhammad 47: Ayat 4.
Catatan: Termasuk juga hadis dari shahabat yang berbunyi: أمرنا رسول الله atau أمرني, maka menunjukkan perintah.
Jumhur ulama sepakat bahwa setiap Amr atau perintah menunjukkan wajib selama tidak ada dalil yang memalingkannya, dengan dalil:
1. Ketika Allah Swt. Menyuruh iblis untuk bersujud Kepada nabi Adam as. Allah Swt. Berfirman: قَا لَ مَا مَنَعَكَ اَ لَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ (QS. Al-A'raf 7: Ayat 12).
Artinya: Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu aku memerintahmu?".
Dari ayat ini ulama memahaminya jika jika perintah itu tidak menunjukkan wajib niscaya Allah Swt. Tidak akan menegur iblis waktu itu.
2. Allah Swt. Berfirman: فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَا لِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖۤ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ (QS. An-Nur 24: Ayat 63).
Artinya: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya merasa takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
Sudah jelas dari ayat ini bahwa barang siapa yang melanggar perintah-Nya akan medapat siksaan atau azab.
3. Dari hadis nabi yang berbunyi:
لولا أن أشقَّ على أمتي لأمرتُهم بالسواك عند كل صلاة.
Bahwa seandainya Rasulullah Saw. Memerintahkan laksana perintah itu adalah wajib.
4. Ijma' shahabat atas mengaplikasikan perintah Allah Swt. Dan wajib taat kepada-Nya tanpa harus mempertanyakannya.
Tak semua lafad Amr (perintah) menunjukkan wajib. Jadi, adakalanya lafad Amr dipalingkan dari makna aslinya menjadi makna sebagai berikut:
1. Doa. (دعاء) Seperti: رَبِّ اغْفِرْ لِيْ (QS. Al-A'raf 7: Ayat 151).
2. Sunnah atau mustahab (ندب). Seperti: hadis nabi Saw. صلوا قبل صلاة المغرب، قال ف الثالثة لمن شاء.
3. Ibahah atau boleh (إباحة). Seperti: كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ (QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 51).
4. Menakut-nakuti (تهديد). Seperti: اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ (QS. Fussilat 41: Ayat 40).
5. Memberi petunjuk atau solusi (إرشاد). Seperti: وَاَ شْهِدُوْۤا اِذَا تَبَايَعْتُمْ (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 282).
6. Fifti-fifti (تسوية). Seperti: فَا صْبِرُوْۤا اَوْ لَا تَصْبِرُوْا ۚ سَوَآءٌ عَلَيْكُمْ (QS. At-Tur 52: Ayat 16).
7. Ciptaan (تكوين). Seperti: كُنْ فَيَكُوْنُ (QS. Ya-Sin 36: Ayat 82).
8. Melemahkan (تعجيز). Seperti: فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23).
APAKAH AMR MENUNJUKKAN FAUR (SEGERA)?.
Ada dua pendapat dari permasalahan ini.
1. Menunjukkan Faur. Karena adanya perintah untuk segera, dalam hal kebaikan dan segera, dalam mereaisasikan perintahnya. Allah berfirman:
وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Tuhanmu (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 133).
Dan di ayat lain Allah berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ
Artinya: maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 148).
2. Tidak menunjukkan Faur. Pendapat ini dikemukakan oleh jumhur ulama Syafi'iyah. Mereka menyatakan bahwa setiap perintah yang tidak disertai Qarinah untuk menunjukkan Faur, hanya menunjukkan tuntutan untuk melaksanakannya tanpa tanpa dibatasi oleh waktu. Oleh karena itu ketika perintah itu dilaksanakan, baik pertengahannya atau di akhir cukup baginya dan terlepas dari perintah tersebut.
Comments
Post a Comment